Playing God

Apa jadinya kalau kita diharuskan membuat sebua keputusan yang berakibat langsung pada hidup dan mati seseorang ? Tentunya  ini bukan hal yang mudah, bisa saja keputusan yang kita ambil itu salah sehingga hal ini akan terus menghantui kehidupan kita. Hal ini pula yang dialami oleh dr. Rully Roesli, seorang dokter ahli ginjal yang bekerja di Rumah Sakit Khusus ginjal (RSKG) H.A.A. Habibie – Bandung, setiap minggu ia bersama staffnya harus memilih pasien mana yang berhak mendapat jatah pengobatan gratis.

“Setiap Jumat, aku dan para staff rapat untuk menetukan pasien mana yang akan mendapat pembebasan biaya cuci darah. Seperti gladiator di Roma, kami menentukan hidup dan mati pasien. Yang paling banyak mendapat suaralah yang akan mendapat bantuan. Bila tidak? Dia mungkin akan meninggal karena kehabisan biaya pengobatan”

Bagi dr. Rully Roesli apa yang dilakukannya bersama para staffnya itu disebut dengan Playing "God” sebuah tindakan yang membuat dirinya bertindak seolah “Tuhan”. Hal ini pula yang menjadi pergulatan batin dan kegelisahannya selama ia menjadi dokter, semuanya itu ia tuangkan dalam buku yang ia beri judul “Playing God”. Sebuah pilihan judul yang cerdas yang pastinya membuat penasaran pembacanya.

Buku Playing "God" yang ditulis sendiri oleh dokter Roesli dengan gaya personal ini berisi 21 kisah pengalaman dirinya ketika ia berpraktek sebagai dokter. Ke 21 kisah kontempelatif ini dibagi dalam lima topik utama. Topik pertama adalah Playing “God” saat seseorang membuat keputusan penting yang bisa mempengaruhi kehidupan orang lain. Kedua Playing “God”, ketika seseorang membuat keputusan penting yang bisa mempengaruhi kehidupan dirinya sendiri. Ketiga, Playing “God”, saat Tuhan telah mengambil kembali hak prerogatif seseorang untuk mengambil keputusan penting yang bisa mempengaruhi kehidupan orang lain atau dirinya sendiri. Keempat, Playing “God”, saat kita diajak mengenal sosok seorang dokter, dan terakhir, Playing “God” saat kita menghadapi akhir kehidupan.

Buku ini menyuguhkan banyak kisah yang menarik, karena ditulis oleh seorang dokter maka istilah-istilah medis kedokteran menjadi tak terhindarkan, namun jangan khawatir semua istilah itu akan dijelaskan dalam kalimat-kalimat sederhana yang mudah dimengerti oleh siapapun sehingga memperkaya wawasan kita dalam hal medis.

Salah satunya adalah tentang Euthanasia yang berarti membiarkan seorang pasien meninggal dengan sengaja dimana tindakan ini diambil pada pasien yang tidak memiliki harapan hidup. Di buku ini dikemukakan secara rinci definisi beserta kasus-kasus yang terjadi termasuk euthenesia di Indonesia.

Namun selain Euthenesia ternyata ada pula yang disebut Euthanasicon, pengertiannya hampir sama namun yang membedakan adalah penyebab utamanya bukanlah beratnya penyakit melainkan situasi keluarga dan ekonomi.  Jika demikian sebenarnya jenis euthenesia jenis inilah yang mungkin paling banyak terjadi di Indonesia.

“Sebenarnya, banyak sekali praktik euthanasicon di Indonesia. Berapa ribu pasien yang dibawa pulang paksa dari rumah sakit, karena kekurangan biaya? Berapa ribu pasien, yang seharusnya dioperasi jantung tidak melakukannya karena kekurangan dana? Berapa ribu pasien penderita kanker yang tidak mendapat pengobatan gara-gara tidak ada biaya…  Banyak sekali pasien yang mengalami etuhanasicon! “(hal 59)

Melihat keadaan ini dokter Rully mencoba mengaitkannya dengan potensi Zakat yang seharusnya bisa dimaksimalkan pengumpulannya agar dapat membantu pasien-pasien penyakit kritis agar tidak terjadi lagi praktek euthanasicon.

“Indonesia adalah negara dengan penduduk beragama Islam terbanyak di dunia. Asian Development Bank (ADB) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) membuat kajian bahwa potensi pengumpulan zakat di Indonesia dapat mencapai 217 triliun. Kenyataan dana zakat yang terkumpul pada 2007 adalah Rp. 850 milyar!

Indonesia telah memiliki  UU No. 17 Tahun 2000 tentang pengelolaan zakat. Namun faktanya belum mampu mengubah kesadaran masyarakat mampu untuk berzakat.  Berbeda dengan Malaysia . Meski sama sekali belum memiliki UU yang mangatur masalah zakat, mereka telah mampu menfaatkan zakat sebagai sumber kesejahteraan masyarakat” (hal 630)

Dari beberapa tulisan yang ada dalam buku ini terlihat memang penulis memiliki kepedulian sosial yang sangat tinggi. Tingginya kedudukan yang ia peroleh dan keahliannya dalam bidang medis tak membuat ia sombong,  penulis bahkan pernah  membantu pasiennya yang kurang beruntung untuk mendapat pengobatan gratis walaupun untuk  itu ia harus melakukan kebohongan-kebohongan kecil yang mungkin saja bisa mengancam reputasinya sebagai seorang dokter jika sampai ketahuan.

Dari seluruh kisah yang ditulisnya, penulis juga banyak menyelipkan nilai-nilai religi dalam tiap kisahnya. Pengetahuan medis tak membuat ia lupa akan kemahakuasaan Tuhan sebagai sang penyembuh. Dalam kisah berjudul “Apakah Keajaiban itu Ada” terlihat bahwa penulis mempercayai ada kekuatan adikodrati yang berperan dalam proses kesembuhan si pasien yang pernah ia alami saat menangani pasien kanker hati yang sembuh karena doa dari ibunya.

Masih di bagian  ini pula penulis menambahkan bukti ilmiah atas kekuatan doa berupa hasil survey yang dilakukan oleh British Medical Journal tahun 2001 yang meneliti 3.393 pasien dengan infeksi aliran darah yang dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama diberi obat ditambah intervensi doa dan kelompok kedua diberi obat tanpa intervensi doa. Hasilnya kelompok pertama mengalami lama demam yang lebih singkat dan tingkat kematian yang lebih rendah dibanding kelomok pertama.

Selain itu ada juga kisah tentang orang-orang yang berhasil bertahan berkat uluran tangan Tuhan. Mereka adalah orang-orang sakit yang bertekad untuk bertahan walau tanpa bantuan siapapun. Atau ada pula disinggung kisah orang-orang terkenal yang walau dalam tubuh sakitnya dia tetap berprestasi dan mengabdi pada bangsanya. Hal ini tentunya mengajarkan sekaligus membekali kita untuk tidak menyerah dan memiliki semangat untuk sembuh yang tinggi saat kita didera penyakit kronis.

Selain soal medis, perenungan, dan nilai-nial religi buku ini juga menghadirkan sosok dokter sebagai manusia biasa, di bagian ini akan terlihat bagaimana sebenarnya seorang dokter mengalami keterbatasan. Dokter juga merasakan kekuatiran dan kebingungan yang sama seperti kita ketika kita atau orang yang kita sayangi menderita sakit yang parah. Hal ini  terungkap dalam salah satu kisahnya ketika penulis berusaha menyembuhkan adik kandungnya sendiri, seniman mbeling Harry Roesli, dimana ia tampak begitu kecewa karena sebagai dokter  ia tak mampu menyembuhkan adiknya sendiri. Bab ini terlihat sangat personal dan menjadi kisah yang paling panjang dari seluruh kisah yang ada.

Dengan semua kisah-kisahnya yang inspiratif pada intinya, saya setuju dengan endorsment dari DR. Aam Amiruddin, M.SI yang mengatakan buku ini adalah buku yang "Sangat inspiratif yang dibingkai dalam logika ilmiah yang mudah dicerna dan dipupuk dengan nilai-nilai spiritual, dan dihiasi kearifan penulis yang tajam"

Tak ada kritik untuk buku ini, bagi saya pribadi kisah-kisah dalam buku ini menyadarkan akan banyak hal yang mungkin selama ini tidak terpikirkan oleh kita bahwa banyak orang, lembaga, bahkan mungkin diri kita sendiri ternyata kerap melakukan atau menjadi korban Playing “God”

Pengalaman penulis dalam melakukan Playing “God” bukan tak mungkin sering juga kita lakukan dalam skala dan jenis yang berbeda-beda.  Seperti yang dialami oleh penulis, bisa saja suatu saat kita harus melakukan Playing “God”, karenanya kalaupun kita harus melakukannya marilah kita ber-Playing "God" dengan dasar kasih-NYA sehingga apapun yang kita putuskan itu dapat membawa pengaruh yang positif baik untuk orang lain maupun untuk diri kita sendiri.

Mungkinkah? Tak ada yang tak mungkin selama kita meminta pertolongan dari TUHAN sang pemberi dan pengendali kehidupan yang sesungguhnya.